SANGATTA, KUTIM – Kejuaraan Bulutangkis Kabupaten (Kejurkab) Kutai Timur 2026 resmi berakhir. Selama tiga hari, persaingan berlangsung di HB Arena Billiard & Badminton atau GOR Habibi, Desa Benua Baru, Kecamatan Sangkulirang, dan menghasilkan sejumlah juara dari berbagai kelompok usia.
Kejurkab yang untuk pertama kalinya digelar di Sangkulirang tersebut diikuti 180 atlet dari sembilan persatuan bulutangkis yang berasal dari enam kecamatan. Para atlet berkompetisi dalam sejumlah kelompok usia, mulai dari kategori usia dini hingga kelompok dewasa.
Bagi Pengurus Kabupaten Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kutai Timur, Kejurkab bukan hanya menjadi kompetisi untuk menentukan atlet yang berhasil meraih posisi juara.
Ketua PBSI Kutim, Daniel Politius Sebayang, mengatakan pembinaan atlet harus dilakukan melalui proses yang bertahap dan berkesinambungan.
“Yang paling penting bukan hanya mencari siapa yang menjadi juara, dari kejuaraan ini kita bisa melihat potensi atlet, bagaimana kemampuan mereka, bagaimana mental bertandingnya, dan kemudian siapa yang perlu kita bina lebih lanjut,” ujar Daniel.

Ia menjelaskan, pengalaman bertanding menjadi salah satu bagian penting dalam proses pembentukan seorang atlet. Terutama bagi atlet usia dini dan kelompok muda, pertandingan menjadi sarana untuk belajar menghadapi lawan, tekanan selama kompetisi, sekaligus mempertahankan sikap sportif.
“Atlet tidak bisa hanya berlatih. Mereka harus punya pengalaman bertanding. Dari pertandingan seperti ini mereka belajar menghadapi tekanan, belajar sportif, dan belajar bagaimana menjaga mental ketika menghadapi lawan,” katanya.
PBSI Tak Ingin Atlet Berhenti di Podium
Daniel menegaskan, baik atlet yang berhasil menjadi juara maupun mereka yang belum meraih gelar masih mempunyai kesempatan untuk terus berkembang. Karena itu, hasil Kejurkab akan menjadi salah satu bahan evaluasi dalam proses pembinaan PBSI Kutim.
“Jangan cepat puas bagi yang juara dan jangan berkecil hati bagi yang belum berhasil. Ini bagian dari proses dan yang penting terus berlatih, terus bertanding dan terus meningkatkan kemampuan,” tuturnya.
Menurut Daniel, pembinaan atlet tidak cukup hanya melalui latihan rutin. Para atlet juga membutuhkan pengalaman bertanding secara bertahap dan berjenjang, sehingga mereka memiliki kesiapan ketika harus menghadapi kompetisi dengan tingkat persaingan yang lebih tinggi.
Pelaksanaan Kejurkab yang untuk pertama kalinya berlangsung di Sangkulirang juga menjadi bagian dari upaya PBSI Kutim memperluas ruang pembinaan hingga ke wilayah kecamatan.
“Harapan kita, dari Kejurkab ini semakin banyak atlet yang muncul dan bisa kita bina secara berkelanjutan. Bukan hanya menjadi juara di Kutai Timur, tetapi nantinya mampu membawa nama Kutai Timur di tingkat provinsi bahkan nasional,” pungkas Daniel.

Kejurkab Kutim 2026 pun resmi ditutup. Dari 180 atlet yang mengikuti pertandingan, sejumlah nama berhasil berdiri di podium. Namun bagi PBSI Kutim, medali dan piala tersebut bukan menjadi akhir dari perjalanan, melainkan awal untuk menjaring sekaligus mempersiapkan generasi atlet bulutangkis Kutai Timur selanjutnya.

Komentar